Tantangan bisnis properti diproyeksi masih berat tahun depan

Pasar properti sepanjang 2018 masih mengalami kelesuan. Tahun depan, tantangan industri ini diperkirakan masih akan berat meskipun sudah banyak insentif yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk menggairahkan pasar.

Tantangan yang harus diwaspadai oleh pengembang tahun depan adalah yang dari luar. Pasalnya, ketidakpastian masih akan mewarnai ekonomi dunia dan suku bunga The Fed diperkirakan masih akan mengalami kenaikan.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia menyebutkan, menjelang tahun 2019 sudah banyak peringatan akan outlook yang kurang baik tahun depan yang perlu diperhatikan.

“Pemimpin negara G20 di pertemuan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang digelar di Argentina sudah merevisi outlook ekonomi tahun depan. Begitu juga dengan IMF telah merevisi turun target pertumbuhan ekonomi global dari 3,9% menjadi 3,5%, ” jelas Sri Mulyani dalam Agenda Properti Outlook 2019 di Jakarta, Senin (17/12).

Sri Mulyani mengatakan warning outlook tersebut dikeluarkan karena ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China masih belum mereda sehingga diperkirakan bisa berdampak pada resesi ekonomi dunia. Kemudian, The Fed juga kemungkinan besar masih akan menaikkan suku bunganya. Inilah yang akan membuat dollar AS akan semakin bertaring.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, regulator di Indonesia tentu harus mengambil langkah kebijakan. Jika dollar semakin menguat maka nilai tukar rupiah akan tertekan. Jika itu terjadi maka potensi kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri juga akan tinggi dan inilah yang akan mempengaruhi industri properti. Suku bunga kredit tentu akan semakin meninggi.

Sementara di dalam negeri sendiri, faktor fiskal seperti perpanjakan juga bisa mempengaruhi pertumbuhan bisnis properti. Melihat bahwa sektor properti mempunya peran yang sangat besar dalam mendorong ekonomi, Kementerian Keuangan akan mencoba merelaksasi aturan perpanjakan guna mendorong sektor ini.

“Kami mengingkan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkeadilan. Untuk mencapai itu, maka industri konstruksi dan properti harus juga menjadi perhatian utama mengingat keduanya memiliki banyak multiplier effect. Kami sudah bertemu dengan Kadin dari sektor properti membahas mengenai kebijakan perpajakan. Kita akan evaluasi di sektor PPnBM.” kata Sri Mulyani.

Dengan tantangan-tangan tersebut, David Sumual, Ekonom Bank BCA memperkirakan pasar properti investor masih akan stagnan tahun. “Untuk investasi kemungkinan akan terjadi moderasi karena sebagaian besar masih terjadi over supplay.” katanya.

Namun, untuk pasar end user menurut David masih sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), backlog perumahaan atau kebutuhan akan hunian di Indonesia tahun 2018 mencapai 7,6 juta. Sebagian besar dari pasar end user itu merupakan kalangan millenial.

Segmen tersebut menurut David belum tergarap dengan optimal sehingga pengembang harus gencar melakukan penetrasi ke segmen tersebut guna mengimbangi stagnasi di pasar investor dengan cara membuat program-program yang inovatif

Meski kondisi pasarnya begitu, David memandang kondisi properti di Indonesia saat ini masih dalam kategori siklus yang sehat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan regulator dalam menjaga industri properti menurut sudah sangat tepat untuk mencegah terjadinya bubble properti seperti di negara-negara lain termasuk Jepang. Sebagian besar dari 16 paket kebijakan yang sduah dirilis pemerintah terkait dengan indutri properti.

“Dulu BI pernah mengetatkan aturan LTV dalam mencegah bubble ketika harga properti booming dan sekarang aturan dilonggarkan kembali. Saya pikir sekarang siklusnya sehat dan dalam waktu dua tiga tahun mendatang saya kita akan kembali booming,” kata David.

Dia melihat kendala saat ini hanya dari sisi perpajakan dan perizinan saja terutama yang menyangkut otoritas pemerintah daerah. David menilai diperlukan deregulasi terkait dua hal tersebut agar bisa memaksimalkan pertumbuhan bisnis properti. Perkiraan David, pertumbuhan kredit properti tahun depan sekitar 13%-14%.

Head of Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto melihat butuh waktu setahun lagi agar pasar properti pulih. Sebab suku bunga bergerak naik dan supplai properti masih besar sementara pasarnya masih lesu.

“Dengan bunga makin tinggi pengembang itu tetap sulit dan kedua sisa yang belum habis akan bersaing dengan suplai di 2019 sementara pasar lagi lambat. Oleh karena itu tidak disebut setelah Pilpres langsung naik.” jelasnya.

Menurut Ferry masalah yang terjadi saat ini di properti bukan kemampuan beli yang tidak ada. Dia melihat uang oarang-orang kaya masih banyak hanya saja saat ini masih terpakir di instrumen investasi lain yang dinilai masih memberikan yield lebih tinggi. Hanya saja, dia tidak mempuanyai data dimana dana-dana investor saat ini ditempatkan.

Sementara Sinarmas Land masih optimis menghadapi tahun 2019 walaupun tantangan bisnis masih berat. Managing Director Sinarmas Land, Dhony Rahajoe mengatakan, pihaknya sebetulnya tidak terlalu mengkhawartirkan kondisi dari dalam negeri melainkan faktor dari eksternal yang tidak bisa ditebak.

“Menghadapi berbagai tantangan tersebut, kami akan terus mencoba cermat dalam menggarap segmen yang ceruk pasarnya masih terbuka lebar. Fokus utama perusahaan masih di segmen residensial,” kata Dhony.

Dhony mengaku, biasanya saat masa-masa Pemilihan Presiden (Pilpres) penjualan properti mereka akan sedikit kontraksi namun pasar di semester II diperkirakan akan mengalami pertumbuhan. Sinarmas Land menargetkan penjualan properti kurang lebih sama dengan tahun ini.

Sumber: kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *