Permintaan Perumahan Masih Akan Didominasi Segmen Menengah Bawah

Permintaan rumah tahun ini hingga tahun depan masih akan didominasi segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). MBR adalah segmen masyarakat untuk mendapat bantuan dari pemerintah untuk kepemilikan rumah.

Business and Sales Departemen Head untuk KPR Subsidi BTN Budi Permana mengatakan, daya beli menengah bawah atau MBR masih kuat dan tidak terpengaruh isu pelemahan daya beli. Harga yang termasuk MBR untuk wilayah Jabodetabek terus naik sejak 2016 berada di harga Rp133,5juta kemudian di 2017 meningkat menjadi Rp141 juta dan pada 2018 akan kembali naik menjadi Rp148,5 juta.

Dengan adanya suku bunga KPR subsidi yang kini dijaga 5%, cicilan Rp800 ribu sebulan dan uang muka 1% rasanya cukup mudah untuk segmen menengah bawah memiliki rumah. “Tahun depan tren masih akan didorong segmen MBR, meskipun ada kenaikan harga dari ketentuan kementerian. Sehingga kami yakin segmen menengah bawah akan terus dicari untuk penuhi kekurangan atau backlog perumahan,” ujar Budi dalam diskusi di Marketing Gallery Cimanggis City, di Depok, Rabu (15/11/2017).

Menurutnya kawasan Depok terus mencatatkan pertumbuhan permintaan perumahan sebesar 20-30% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan Depok sebagai kota penyangga Jakarta sehingga menjadi daerah pilihan pekerja untuk membeli rumah. “Kontribusi Depok masih tinggi untuk bisnis perumahan karena merupakan daerah penyangga. Namun harganya sudah relatif tinggi karena termasuk perkotaan. Segmen rumah bersubsidi terdekat dari Depok ada di Citayam,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan pihaknya siap mengucurkan KPR mikro untuk segmen yang lebih kecil. Segmen ini ditujukan untuk yang belum mampu membeli rumah, bisa juga untuk yang sudah punya rumah namun belum layak tinggal, ataupun sudah mempunyai tanah. Pinjaman maksimal bisa sebesar Rp75 juta dan cicilan mulai dari Rp15 ribu sehari.

“Misalnya bisa menggunakan untuk renovasi kamar mandi saja. Kami menggandeng asosiasi pedagang bakso, tukang cukur, hingga mitra gojek. Sudah ada 800 mitra yang sudah siap. KPR mikro cocok untuk masyarakat Depok yang tidak termasuk penerima KPR subsidi,” ujarnya.

Sementara Project Director Cimanggis City, Sanggam Sitorus mengatakan kemampuan beli rumah masyarakat saat ini mayoritas di bawah Rp500 juta. Karena itu pihaknya fokus pada unit apartemen Rp250 juta. Proyek hunian vertikal senilai Rp400 miliar yang dikembangkan PT Permata Sakti Mandiri (PSM) akan mulai dibangun pada awal tahun 2018 mendatang.

“Kami targetkan penjualan Apartemen Cimanggis City tahap pertama bisa mencapai 40% sampai akhir tahun 2017. Groundbreaking kami targetkan dimulai pada awal tahun depan,” ujar Sanggam dalam kesempatan sama.

Lebih lanjut Ia menambahkan meskipun kompetisi ketat di kawasan Depok, namun terbukti minat beli masyarakat masih tinggi. Harga booking mengalami kenaikan dari Rp9,8 juta waktu peluncuran bulan Mei lalu hingga kini menjadi Rp11,2 juta saat ini.

Ada kenaikan sekitar 20% karena tingginya minat masyarakat. Alhasil sebanyak lebih dari 230 unit telah berhasil dijual untuk satu tower. “Kami rasanya cukup tepat dalam memilih harga dan fasilitas yang kami tawarkan. Daya beli masyarakat segmen menengah di Depok dan sekitarnya terbukti masih kuat,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sanggam, Cimanggis City nantinya tidak hanya menawarkan hunian bertingkat tetapi juga menyediakan unit-unit ruko dengan harga sangat terjangkau bagi UMKM. “Ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap tumbuhkembangnya UMKM di Kota Depok,” ucapnya.

Sanggam menjelaskan, semakin bertambahnya kebutuhan hunian dengan harga terjangkau bagi masyarakat sub-urban di tengah keterbatasan lahan pengembangan di pusat kota, menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi developer properti. Guna menjawab tantangan tersebut, PT. Permata Sakti Mandiri membesut proyek properti di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Hunian vertikal yang diberi nama Cimanggis City ini ditawarkan dengan harga terjangkau bagi masyarakat sub-urban, hanya Rp250 jutaan per unit atau sekitar Rp11 juta per meter per segi. Wilayah Cimanggis merupakan kawasan paling dekat dan terjangkau bagi masyarakat sub-urban yang beraktivitas di kota induk seperti Jakarta. Dengan adanya hunian ini diharapkan dapat menopang percepatan wilayah dan mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Apartemen Cimanggis City adalah hunian dengan konsep lagoon leisure. Hunian yang tidak hanya mampu memberikan kenyaman bagi penghuninya untuk beristirahat (relaksasi) setelah beraktivitas. Namun juga mampu sebagai tempat aktualisasi diri bagi keluarga dan hubungan sosial lainnya.

Hunian setinggi 24 lantai ini berdiri di lahan seluas 1 hektar dengan luas bangunan sekitar 65.000 meter persegi. Total unitnya berjumlah 1.600 unit apartemen dan kios dengan dua pilihan tipe, yaitu tipe 21 (studio) dan tipe 36 (2 kamar). “Cimanggis City hanya memasarkan dua pilihan tipe yang paling banyak dibutuhkan masyarakat sub-urban dengan kelebihan fasilitas dan akses memadai,” ungkapnya.

Selain itu, Cimanggis City juga memberikan kemudahan cara pembayaran di antaranya dengan pembayaran cash bertahap maupun KPA Bank BTN. Tak hanya itu, untuk transaksi pada November 2017 ini disediakan hadiah langsung annual pass Jungleland.

Ditambahkan Sanggam, pihaknya selama ini terus melakukan berbagai berupaya guna memberikan kepuasan terhadap konsumen. Selain mempersembahkan proyek berkualitas, harga terjangkau, dan pembangunan tepat waktu, juga senantiasa menggelar berbagai event yang melibatkan komunitas masyarakat sehingga memberikan nilai tambah dan pengalaman tak terlupakan.

Sumber: sindonews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *