Menanti Gaya Hidup Baru Lewat MRT

“Besok ke kantor tanpa macet bukan cuma mimpi,” ujar Dinda bersemangat. Dinda adalah satu dari ribuan pekerja di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, yang sangat menantikan kehadiran mass rapid transit (MRT).

Saat ini, dalam sehari, Dinda menghabiskan lebih dari tiga jam untuk perjalanan ke kantor dan pulang ke rumahnya. Dari rumahnya yang berada daerah Lebak Bulus menuju kantornya di kawasan Thamrin menghabiskan waktu hampir dua jam. “Kalau kepepet saya naik ojek,” ucap Dinda di Jakarta, Kamis, 2 November 2017.

Dinda pun mengaku iri dengan negara tetangga yang sudah menikmati MRT jauh sebelum Indonesia. Dia menyatakan siap meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah bila nanti MRT sudah bisa dipergunakan.

“Saya mau kok naik kendaraan umum kalau cepat dan nyaman,” akunya.

Karyawan salah satu bank swasta itu mengaku tak sabar menunggu Maret 2019. Saat itu dia dapat ke kantornya di Jalan Thamrin hanya dalam waktu 30 menit, tanpa macet bersama MRT.

“Stasiunnya bawah tanah, pasti keren. Keluar dikit langsung mal,” kata dia.

Direktur Utama PT MRT William Sabandar mengatakan, kehadiran MRT bertujuan mendorong masyarakat berpindah moda transportasi publik. “Kebijakan yang mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik, meninggalkan transportasi pribadi,” kata dia.

William menyebut, tugas MRT tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun gaya hidup baru, gaya hidup yang mencintai transportasi publik. Untuk mewujudkannya, MRT dibuat senyaman dan seaman mungkin dan berstandar internasional.

Misalnya, stasiun yang dibuat tidak hanya sebagai tempat transit, tetapi juga pusat kesenian dan pusat belanja. “Stasiun menjadi tempat komunitas, tempat pertunjukan seni, musik, semua untuk menarik warga,” kata dia.

Dengan menjadikan MRT dan transportasi umum sebagai gaya hidup, ke depan William yakin masyarakat tidak akan memilih naik transportasi publik lantaran terpaksa tapi karena kesadaran.

“Kalau mau Jakarta yang baik dan nyaman, dan sifatnya inklusif untuk semua warga Jakarta kita harus dorong ke arah meninggalkan pribadi,” ucap dia.

Pilihan Baru

Direktur Operasional MRT Agung Wicaksono mengatakan, hadirnya MRT diharapkan tidak hanya menjadi pilihan baru moda transportasi umum bagi warga Jakarta, tapi juga mengubah gaya hidup dari semula mengandalkan kendaraan pribadi menjadi pengguna setia kendaraan umum.

Agung mengatakan, hadirnya MRT harus dapat mengubah gaya hidup warga Jakarta. Dia akan memopulerkan gaya hidup BMW alias “bus, MRT, walk”.

“Kita ingin ubah gaya hidup, lifestyle, MRT harus mengubah dari traffic kayak begini, menjadi katalis mengubah gaya hidup, budaya, namanya BMW,” kata Agung.

Nantinya, bus yakni Transjakarta akan terintegrasi atau menjadi bus pengumpan yang mengantarkan warga menuju stasiun MRT.

“Bus harus terintegrasi sama kita,” kata dia.

Adapun gaya hidup suka berjalan kaki, kata Agung, akan didorong dengan penataan trotoar lebar dan lengkap di sekitar stasiun MRT. Selain itu, untuk mendorong warga agar antusias naik MRT dan meninggalkan mobil pribadinya, PT MRT memastikan kenyamanan dan keamanan MRT.

Mengenai masinis, meski telah menggunakan masinis otomatis, masinis tetap berada di kereta untuk berjaga bila ada kondisi tidak diinginkan. Masinis direkrut dari pegawai KAI berprestasi dan dilatih di MRT Malaysia. Kedua adalah waktu tunggu penumpang yang hanya 5 menit.

“(Ada masinis atau manual) Bila listrik putus, di situ manual (masinis) harus bisa mengemudikan termasuk ngerem,” kata dia.

Kenyamanan MRT

Agung menyebut, stasiun akan dilengkapi pendingin, elevator, dan lift. Untuk keamanan, stasiun dilengkapi CCTV hingga pintu penghalang banjir untuk stasiun bawah tanah.

Bila ingin menggunakan MRT, calon penumpang bisa masuk pada pintu masuk MRT yang memiliki nama stasiun, dan langsung tersedia eskalator yang mengantar ke terminal bawah tanah.

Untuk jalur bawah, calon penumpang MRT bisa masuk ke lantai bawah level I atau area publik. Di sana, calon penumpang bisa menikmati area komersial untuk shopping atau sekadar kongko atau penumpang bisa langsung masuk ke pintu otomatis. Untuk masuk ke dalam kereta, penumpang bisa turun satu lantai lagi di area platform.

“Ada beberapa proteksi, stasiun, pintu sepanjang underground agak naik ke atas. Terutama dukuh atas, itu pintunya paling tinggi 1,2 meter. Naik tangga baru pintu. ada sensor dan kita ada flood gate,” ujar Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *