Investasi Terbaik di 2017

dolar, properti, real estate, daftar orang terkaya

“Berinvestasilah hanya karena Anda memang yakin pada produk tersebut.” Begitu saran Safir Senduk, ahli perencana keuangan “Entah karena produk itu memang naik dalam jangka panjang atau pasti bisa selalu memberikan keuntungan secara rutin.” lanjutnya

“Saya bukan peramal, apalagi meramal akan seperti apa keadaan ekonomi kita di 2017 ini. Nah, karena saya percaya tidak ada satu orangpun yang benar-benar tahu seperti apa ekonomi kita di 2017 ini, maka saya selalu menyarankan untuk jangan pernah mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan perkiraan ramalan ekonomi.”

Berinvestasi karena anda yakin akan produk yang anda pilih jauh lebih baik daripada berinvestasi karena ada peramal ekonomi yang bilang bahwa tahun ini produk investasi tersebut akan naik harganya.

Untuk menggali keyakinan anda, ada 3 sektor yang saya sarankan.

1. SAHAM & REKSA DANA

Membeli saham di Pasar Modal ibarat Anda membeli sebuah perusahaan tanpa perlu membangunnya dari awal dan terlibat aktif didalamnya. Yang menarik dengan membeli saham Anda akan mendapatkan hasil investasi yang luar biasa dalam jangka panjang, entah dalam bentuk kenaikan harga atau dividen.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau tahun 2017 ini ekonomi menurun?
Apakah harga saham juga akan ikut turun?

Kenyataannya tidak selalu begitu. Tergantung sektornya. Di tiap naik turunnya ekonomi, selalu ada saja sektor yang nilai sahamnya naik maupun yang turun.

Pertanyaannya sekarang, sektor usaha apa yang bagus untuk dibeli sahamnya walaupun ekonomi sedang naik atau turun?

Kalau menurut pakar invetasi Yossy Girsang ada 3 sektor yang bisa dipertimbangkan. Yaitu barang konsumsi, infrastruktur & perbankan. 3 sektor ini biasanya selalu bertahan pada kondisi ekonomi apapun.

Dalam bentuk berbeda, Anda bisa juga pertimbangkan untuk membeli reksa dana saham. Pada reksa dana saham, uang Anda akan dimasukkan ke banyak saham oleh  perusahaan manajemen investasi, dan Anda tinggal mendapatkan reportnya saja. Dalam jangka panjang, risiko pada reksa dana saham juga lebih rendah dibanding kalau Anda berinvestasi langsung pada saham.

2. PROPERTI

Properti menurut saya enggak akan pernah mati.

Secara timing, memang properti punya siklus naik turunnya sendiri yang beda-beda di setiap negara. Tapi seharusnya, bukan itu alasan Anda membeli properti.

Alasan utama Anda membeli properti  adalah karena jumlah penduduk (pengguna properti) meningkat jauh lebih cepat dibanding jumlah ketersediaan properti. Inilah yang membuat nilai properti dalam jangka panjang selalu naik.

Yang menarik lagi adalah, kalau Anda membeli properti hanya karena alasan harga properti pasti naik, sebaiknya lupakan saja.

Kenapa?

Karena properti tidak selalu mudah dijual kembali, apalagi kalau Anda tidak punya pengalaman jual beli properti sebelumnya. Jadi daripada membeli properti dan berharap Anda akan dapat untung dari penjualan kembali, lebih baik harapkan untung dari menyewakannya. Dan pendapatan dari sewa properti biasanya akan tetap ada walaupun ekonomi sedang turun sekalipun. Nah, kalaupun di masa yang akan datang Anda ingin menjual kembali properti Anda dan terjual, anggap saja bonus. Bonus yang sangat besar, karena toh dalam jangka panjang kenaikan properti biasanya cukup lumayan, asalkan Anda bisa memillih lokasi yang tepat.

3. EMAS 

Selembar uang senilai Rp 100.000,- milik anda memiliki 2 nilai, yaitu nilai nominal dan nilai intrinsik. Nilai nominalnya adalah yang tercantum pada kertas yaitu Rp 100 ribu, sedangkan nilai intrinsiknya adalah nilai materialnya yang berupa kertas yang seringkali tidak selalu sama dengan nilai nominalnya. Yang menarik, nilai intrinsik ini akan naik terus mengikuti inflasi. Jadi bisa saja sekarang nilai kertas cuma Rp 10 ribu per lembar Rp 100 ribu, tapi karena inflasi, tahun depan nilai kertas itu akan naik jadi 30 ribu, 50 ribu, 100 ribu, 150 ribu dst.

Tapi berapakah nilai nominalnya? Tetap Rp 100 ribu. Sampai kapanpun. Itulah kenapa uang kertas itu rentan terhadap inflasi, di mana nilai nominal yang tercantum di uang itu dalam jangka panjang tidak akan bisa mengejar Nilai intrinsik yang selalu naik mengikuti inflasi atau kenaikan harga.

Pertanyaannya sekarang, adakah investasi yang nilai nominalnya sama dengan nilai intrinsiknya? Jawabannya adalah Emas. Pada emas, nilai nominal biasanya akan selalu sama dengan nilai intrinsiknya.

Dan karena dalam jangka panjang nilai intrinsik terus naik  mengikuti inflasi, maka nilai nominal emas (baca: harga emas) akan naik juga. Itulah kenapa, sepanjang selalu ada inflasi alias kenaikan harga, maka harga emas juga akan selalu naik dalam jangka panjang.

Nah, itulah 3 produk investasi yang bisa Anda pertimbangkan untuk dimiliki di tahun ini.  Sekali lagi saran saya, belilah produk investasi bukan karena harganya naik atau turun, tapi karena Anda memang yakin pada produk tersebut, dan percaya bahwa produk itu nilainya selalu naik dalam jangka panjang.

Semoga bermanfaat.
Safir Senduk & Rekan
Sumber : liputan 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *